Rabu, 30 Juli 2008

TUGAS 4

1. Berikan contoh kasus anarkisme yang dilakukan “remaja” sebagai refleksi lemahnya pengendalian emosi dan gejolak usia perkembangan.

· Di badung mereka menamakan dirinya gank motor, mereka selalu mengkader para anggota barunya dengan cara perploncoan, yang selalu identik dengan kekerasan fisik dan mental. seperti yang sering kita lihat di media-media bagaimana cara mereka mengkader anggota barunya. tendangan, pukulan, perkelahian, dan berbagai macam kekerasan fisik yang dilakukan oleh senior meraka, yang berdampak pada sikap dan sifat anarkisme yang sering dilakukan oleh anggota komunitas ini terhadap masyarakat disekitar mereka. banyak sekali tindak kejahatan yang dilakukan oleh mereka dengan dalil kekuasaan dan ketenaran.

· komunitas pelajar sekolah dengan sebutan komunitas para pelajar di salah satu sekolah SMU favorit di jakarta. sistem pengkaderan juga sama yaitu perploncoan dan anarkisme.

· Belum lagi tawuran antar pelajar, pelajar SMK yang menawur sopir angkot dan masih banyak lagi kekerasan dan anarkisme yang dilakukan oleh kalangan remaja dan mahasiswa akhir-akhir ini tidak hanya di ibu kota tapi juga di sumatera maupun di sulawesi.

· Aksi kekerasan yang dilakukan skelompok kumpulan remaja di Pati, Jawa Tengah. Uniknya para pelaku yang menyebut kelompoknya dengan nama Geng Nero ini beranggotakan perempuan.

Dalam tepri psikologi tindak kekerasan yang dilakukan oleh Geng Nero bisa disebut sebagai bullying. Bullying adalah tindakan agresi dengan tujuan menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional maupun seksual.

Bullying biasanya dilakukan karena tradisi balas dendam sebagai akibat dari perlakuan serupa yang pernah diderita pelaku, rasa ingin menunjukkan kekuasaan, marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, mendapatkan kepuasan dan iri hati.

Perilaku bullying dipengaruhi banyak faktor. Manusia mempelajari banyak hal dengan meniru, salah satunya adalah kekerasan. Anak-anak dan remaja kita pun dapat meniru tindak kekerasan dari banyak tempat. Sebut saja orangtua, televisi, teman, bahkan sekolah.

· Baru-baru ini, kita dikejutkan adanya berita terkait aksi kekerasan dan anarkisme yang dilakukan oleh para siswa. Puluhan siswa di sebuah SMK di Yogyakarta yang semula hanya menggelar unjuk rasa, tiba-tiba menjadi beringas dan bertindak anarkis dengan melakukan perusakan terhadap gedung dan fasilitas di lingkungan sekolah mereka. Fakta ini tentunya membuat hati kita (para pendidik dan juga publik) merasa trenyuh dan prihatin. Para siswa yang selama ini kita harapkan menjadi insan terdidik, cerdas intelektual serta memiliki SDM yang andal, senyatanya malah terjerat oleh salah satu penyakit masyarakat (patologi sosial), yakni terjebak untuk berperilaku anarkis, beringas dan radikal. Aksi kekerasan yang saat ini sering dilakukan oleh para siswa/remaja harus dilihat dari dua sisi. Dari sisi peserta didik, keberadaan siswa nakal, pengganggu, jahil, tukang palak dan tingkah laku trouble maker lainnya, oleh pakar psikologi dipandang sebagai upaya mencari dan menunjukkan ‘jati diri’ serta menjaga eksistensinya sebagai remaja. Senyatanya, emosi seseorang pada masa remaja yang masih labil dan sering tak terkendali, menjadi faktor pemicu para siswa/remaja nekat melakukan tindakan anarkis bahkan kriminal. Namun, sering kali, kita, pihak sekolah, kalangan pendidikan, lingkungan rumah dan masyarakat kurang serius memberi perhatian sehingga kenakalan dan emosi remaja yang tak terkendali itu berkembang menjadi benih kejahatan yang lebih serius.

2. Akhir-akhir ini banyak dilansir dalam media kenakalan dan kekerasan dikalangan remaja putri. Berikan komentar anda.

Komentar saya tentang kenakalan dan kekerasan dikalangan remaja putri khususnya kasus geng nero.

Geng nero merupakan nama geng singkatan dari neko-neko dikeroyok. Geng nero ini beranggotakan empat orang wanita yang bernama Tika, Maya, Yunika, dan Ratna. Geng nero ini seringkali melakukan aksi kekerasan terhadap remaja putrid yang tidak mereka sukai. Dalam tepri psikologi tindak kekerasan yang dilakukan oleh geng nero bias disebut bullying. Bullying adalah tindakan agresi dengan tujuan menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental. Bullying ini dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional maupun seksual. Bullying biasanya dilakukan karena tradisi balas dendam sebagai akibat dari perlakuan serupa yang pernah diderita pelaku, rasa ingin menunjukan kekuasaan, marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, mendapatkan kepuasan dan iri hati.

Keberadaan geng nero ini sangat meresahkan masyarakat apalagi kaum remaja putrid yang menjadi korban sasaran geng nero. Geng nero ini sering menganiaya remaja-remaja putri yang mungkin menurut mereka telah menyaingi mereka entah dari segi penampilan atau yang lainnya dan mungkin juga motif balas dendam terhadap orang-orang yang pernah menyakiti geng nero atau salah seorang dari geng nero, sehingga mereka nekad melakukan kekerasan fisik terhadap korbannya.

Mungkin apa yang dilakukan oleh geng nero ini merupakan motif balas dendam. Mereka melakukan semua itu hanya sekedar untuk membalaskan dendam mereka terhadap orang-orang yang telah menyakiti mereka, dengan cara itu mereka akan merasa puas. Selain motif balas dendam mereka juga mungkin ingin mencari sensasi bahwa wanita juga bisa berbuat criminal dengan menganiaya korban. Karena dengan ulah mereka yang criminal sehingga mereka ditangkap oleh aparat keamanan dan mendapatkan sanksi.

Tidak ada komentar: